Minggu, 11 November 2012

Romo Mangun, Pahlawan Pemberdaya Wong Cilik Kali Code


Siapa yang tak kenal dengan Romo Mangun?. Apabila tidak mengenalnya atau setidaknya sekedar tahu, maka pembaca harus segera membuka lembaran sejarah tentang perjuangan Romo Mangun dalam membangun pemukiman  Kali Code, Yogyakarta. Sejarah hidupnya semakin menarik untuk dikenang, terutama seperti sekarang ini di mana penggusuran pemukiman rakyat miskin di kota-kota besar di Indonesia semakin gencar dilakukan atas nama modernisasi, namun tanpa solusi yang memihak pada mereka.

Romo Mangun adalah seorang rohaniawan Katolik yang mendedikasikan hidupnya untuk kepentingan rakyat lemah yang terpinggirkan. Terlahir dengan nama lengkap Yusuf Bilyarta Mangunwijaya pada 6 Mei 1929 di Kabupaten Semarang, beliau mengalami masa revolusi fisik melawan Belanda untuk membebaskan negeri ini dari belenggu penjajahan yang menyengsarakan rakyat.


Romo Mangun

Semasa mudanya ia pernah bergabung ke dalam prajurit Tentara Keamanan Rakyat (TKR) batalyon X divisi III yang betugas di Benteng Vrederburg, Yogyakarta. Bersama dengan para prajurit TKR lainnya, ia sempat ikut dalam pertempuran di Ambarawa,  Magelang, dan Mranggen. Kecintaannya pada negeri ini ia wujudkan kembali dengan bergabung ke dalam wadah perjuangan Tentara Pelajar (TP) Brigade XVII sebagai komandan Tentara Pelajar Kompi Kedu setelah lulus dari STM Jetis Yogyakarta yang bersamaan dengan berlangsungnya Agresi Militer Belanda I. 

Rangkaian peristiwa hidup di atas membuat Romo Mangun mengenal arti humanisme. Ia menyaksikan sendiri bagaimana rakyat Indonesia menderita, kelaparan, terancam jiwanya, dan bahkan mati sia-sia akibat aksi militer Belanda yang mencaplok wilayah republik. Kata bijak komandan Romo Mangun, Mayor Isman semasa perjuangan dahulu ikut berpengaruh terhadap sisi kemanusiannya. Mayor Isman mengumandangkan bahwa yang paling banyak memberikan pengorbanan dan sekaligus menjadi korban dari perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia adalah rakyat kebanyakan. 

Latar belakang pendidikan Katolik yang pernah ia enyam mulai dari HIS Fransiscus Xaverius Muntilan, SMU-B Santo Albertus, Seminari di Magelang dan Kotabaru berperan dalam memberikan warna humanis pemikiran Teologi Romo Mangun. Ia menganut Teologi Pembebasan. Arti ketuhanan dihayati sebagai sesuatu yang menembus berbagai dimensi persoalan manusia, terutama yang dialami oleh kaum kecil. 

Baginya, bertuhan berarti juga memuliakan martabat manusia. Memuliakan martabat manusia tak cukup hanya dengan berbicara, tetapi mengambil suatu sikap dan tindakan nyata untuk melindungi kemanusian itu sendiri dari berbagai macam penindasan. Inilah pesan yang didengungkan oleh Romo Mangun sebagai imam umat Katolik, suatu pilihan hidup yang ia anggap sebagai upaya membayar hutang kepada rakyat yang telah berkorban demi kemerdekaan bangsa ini. 

Kawasan Kali Code, Yogyakarta 
Sumber Foto:


 
Tindakan nyata yang merupakan cerminan dari pemikiran tersebut adalah ketika Romo Mangun berani berdiri di depan untuk menolak rencana penggusuran 30-40 keluarga yang menghuni kawasan kumuh Kali Code pada tahun 1980-an. Ia pun rela mogok makan untuk menolak penggusuran itu. Dengan lantang ia menyuarakan kepada pemerintah daerah yang hendak melakukan penggusuran  bahwa masyarakat Kali Code bisa memperbaiki pemukimannya sendiri asal diberi kesempatan. Tercatat ada tiga peran yang ia lakukan untuk memperbaiki pemukiman warga Kali Code. 

Pertama, ia berjasa dalam mengubah mentalitas membuang sampah sembarangan masyarakat bantaran Kali Code. Dalam mengubah sikap seseorang atau sekelompok orang, tentunya hal yang paling mendasar untuk dilakukan adalah  dengan mengubah mentalitas.  Hal ini disadari betul oleh Romo Mangun.  Namun baginya bicara saja tak cukup, sehingga memberikan teladan kepada masyarakat Code adalah cara yang tepat. Romo Mangun tinggal dan membaur dengan anggota masyarakat Kali Code selama 6 tahun masa pendampingannya. Ia mengamati dan memahami perilaku masyarakat Kali Code, kemudian memberi teladan lewat lisan dan tindakan bagaimana merawat lingkungan. 

Kedua, inisiasi perbaikan tata pemukiman dan lingkungan bantaran Kali Code ia tempuh, sehingga hasilnya kawasan itu menjadi bersih dan tertata. Keterlibatan Romo Mangun dalam revitalisasi Kawasan Code sangatlah vital. Sebagai seseorang yang pernah belajar arsitektur di ITB dan merupakan lulusan Rheinisch-Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman, Ia menyumbangkan daya kreatifitasnya dalam merancang konsep hunian, desain rumah, dan tata pemukiman yang dianggap layak. Material bahan bangunan yang akrab dengan rakyat, seperti bambu sebagai tiang, gedeg (anyaman bambu) sebagai tembok, serta seng sebagai atap dipilih untuk mengisi bangunan. 

Estetika eksteririor hunian warga Kali Code
Sumber Foto: 
http://arsitekturfoto.files.wordpress.com/2008/09/dsc-0337-resize1.jpg


Ketiga, bersama dengan dua orang temannya, Romo Mangun merupakan pendiri Yayasan Pondok Rakyat (YPR). YPR merupakan wadah pemberdayaan masyarakat dalam bidang lingkungan dan pendidikan kritis melalui pendekatan sosio-kultural. Organisasi ini menjadi semacam jembatan bagi sekelompok orang dengan latar belakang profesi yang berbeda, mulai dari arsitek, agamawan, intelektual, penulis, dan seniman untuk mengaktualisasikan ilmunya dalam pemberdayaan masyarakat bawah. 

Dalam perkembangannya, kegiatan YPR meliputi program pemberdayaan komunitas melalui aktivitas belajar alternatif dalam sanggar kampung, mengembangkan media komunitas dalam bentuk buletin kampung, dan pengembangan ruang publik yang disebut dengan nama Kampung Permagangan; kegiatan riset dan advokasi komunitas perkotaan; serta pengembangan database informasi tentang kampung kota melalui dokumentasi dan perpustakaan kota. Sejak tahun 2003, YPR telah bekerja sama dengan 6 kampung kota dalam pemberdayaan komunitas dan penataan lingkungan kampung kota.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar